KADERISASI MUHAMMADIYAH
Kaderisasi merupakan bagian penting dalam persyarikatan Muhammadiyah. Upaya ini harus dilakukan untuk menciptakan para mujahid yang berkualitas di Muhammadiyah. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam pengkaderan, misalnya melalui pendekatan ranah pendidikan.
Kaderisasi bertujuan untuk menciptakan kader-kader terbaik yang mampu meneruskan estafet perjuangan dakwah Muhammadiyah.
KADERISASI MUHAMMADIYAH
A.
Definisi dan Posisi
Kader
Kader
(Perancis: cadre ) atau les cadres maksudnya adalah anggota inti yang menjadi
bagian terpilih, dalam lingkup dan lingkungan pimpinan serta mendampingi di
sekitar kepemimpinan. Kader bisa berarti pula sebagai jantung suatu organisasi.
Jika kader dalam suatu kepemimpinan lemah,maka seluruh kekuatan kepemimpinan
juga akan lemah. Kader berarti pula pasukan inti. Daya juang pasukan inti ini
sangat tergantung dari nilai kadernya yang berkualitas, berwawasan, militan,
dan penuh semangat.
Dalam
pengertian lain, kader (Latin: quadrum), berarti empat persegi panjang atau
kerangka. Dengan demikian kader dapat didefinisikan sebagai kelompok manusia
yang terbaik karena terpilih, yaitu merupakan tulang punggung (kerangka) dari
kelompok yang labih besar dan terorganisasi secara permanen. Jadi, jelas bahwa
orang-orang yang berkualitas itulah yang terpilih dan berpengalaman dalam
berorganisasi, taat asas dan berinisiatif, yang dapat disenut sebagai kader.
Fungsi
dan posisi kader dalam suatu organisasi, termasuk di Persyarikatan, dengan
demikian menjadi sangat penting karena kader dapat dikatakan sebagai inti
pergerakan organisasi. Di samping itu, kader juga merupakan syarat penting bagi
berlangsungnya regenerasi kepemimpinan.
Bagi
sebuah organisasi, regenerasi kepemimpinan yang sehat karena ditopang oleh
keberadaan kader-kader yang qualified, selain akan menjadikan organisasi
bergerak dinamis, juga formasi kepemimpinannya akan segar dan enerjik.
Keberadaan kader bagi Muhammadiyah-dengan kualifikasi dan kompetensinya-seolah
memanifestasikan sosok ciptaan Allah yang terbaik (khairul bariyyah-
QS.Al-Bayyinah/96:7); bagian dari umat yang terbaik ( khairu ummah-QS.Ali
Imran/3:110); serta semisal flora yang kokoh dan menawan, yang dalam
QS.Al-Fath/48:29 diungkapkan;
“......Yaitu
seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman
itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman
itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati
orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan
kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara
mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Jika
Persyarikatan tidak merancang dan menyiapkan para kadernya secara sistematis
dan organisatoris, maka dapat dipastikan bahwa Muhammadiyah sebagai suatu
organisasi akan lemah lunglai, loyo tidak berkembang, tidak ada aktivitas dan
tidak memiliki prospek masa depan. Karena itu setiap organisasi haruslah
memiliki konsep yang jelas, terencana dan sistematis dalam menyiapkan dan
mengembangkan suatu sistem yang menjamin
B.
Pengertian Sistem
Perkaderan Muhammadiyah
Ada
dua kosakata yang perlu diklarifikasi terlebih dahulu untuk bisa memahami
Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM), yaitu:sistem dan perkaderan. Secara
leksikal, sistem berarti seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan
sehingga membentuk suatu kesatuan atau totalitas ( a set or arrangement of
things so related or connected as to form a unity or organic whole). Kemudian
tentang perkaderan, pengucapan dan penulisannya sering tertukar dengan
pengaderan atau pengkaderan. Pengaderan adalah : proses, cara, perbuatan
mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Namun perlu diingat, dalam
“pengaderan” ini, posisi kader atau orang yang ikut dalam training menjadi
obyek dan pasif sebagai orang yang dididik atau dibentuk menjadi kader.
Sedangkan
perkaderan, berasal dari kata dasar kader ditambah prefiks_nominal per dan
sufiks an (perihal, yang berhubungan dengan, antara lain, kader). Dalam
“perkaderan”, posisi kader atau orang yang ikut training menjadi subyek
dan aktif. Jadi, yang pas dipergunakan dalam SPM adalah perkaderan.
Dengan
demikian, pengertian Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM) adalah: “Seperangkat
unsur dan keseluruhan komponen yang secara teratur saling berkaitan sehingga
membentuk suatu totalitas yang berhubungan dengan kader dan kaderisasi di
Muhammadiyah.”
Sebagai
sebuah sistem, unsur-unsur yang terkandung dalam SPM berupa : tujuan perkaderan
Muhammadiyah; arah perkaderan Muhammadiyah; profil kader Muhammadiyah; jenis
dan bentuk perkaderan; struktur penjenjangan kader; kurikulum perkaderan; dan
pengorganisasian perkaderan. Dalam hal ini, sistem perkaderan yang dimiliki
olah ortom, juga merupakan bagian dari SPM.
C.
Perkaderan Sebagai
Sebuah Sistem
Sebagai
sebuah sistem dan kesatuan yang utuh, maka SPM berlaku bagi semua jajaran dan
komponen Persyarikatan. Konsekkuensinya SPM juga memuat atau mencakup seluruh
bentuk dan jenis kaderisasi dan pelatihan yang diterapkan di Muhammadiyah, baik
secara vertikal maupun horizontal.Yang dimaksud dengan vertikal adalah SPM
berlaku bagi seluruh pimpinan Mihammadiyah, mulai dari Pusat sampai dengan
Ranting, sebagai acuan dan pola dalam pelaksanaan kadersisari secara optimal
sesuai dengan tingkatan masing-masing. Sedangkan yang dimaksud dengan
horizontal adalah SPM berlaku dan mengikat seluruh Unsur Pembantu Pimpinan
(majlis dan lembaga), Ortom, dan Amal Usaha Muhammadiyah diseluruh jenjang
kepemimpinan Muhammadiyah untuk dilaksanakan sebagai acuan dan pola kaderisasi.
Karena
bersifat mengikat dan menyeluruh seperti itu, maka sistem perkaderan yang
dimiliki masing-maing ortom menjadi bagian dari SPM. Maing-maing ortom
melaksanakan program dan kegiatan perkaderanya berdasarkan kekhasan
masing-masing dengan tetap mengacu dan mengindahkan konsep dasar, prinsip dan
kurikulum dalam SPM secara konsisten. Sedang pelatihan dan training yang ada
dan dimiliki oleh majlis dan/atau lembaga semuanya termasuk dalam SPM yang
dikatagorikan sebagai jenis perkaderan fungsional. Karena termasuk bagian SPM,
maka dalam perkaderan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh ortom dan majlis
atau lembaga tersebut harus mengandung muatan materi pokok dari kurikulum SPM.
Kemudian,
sebagai bagian dari SPM, maka untuk kegiatan pelatihan atau training dalam
program kegiatan yang diselenggarakan oleh unsur pembantu pimpinan,
masing-masing cukup menyusun panduan pelatihan atau pedoman pelaksanaan saja.
Jadi tidak perlu membuat sistem perkaderan sendiri, untuk menghindari
kesalahpahaman ada lebih dari satu sistem perkaderan Muhammadiyah.Dalam
kesatuan sistem, maka pelksanaan perkaderan, baik di lingkungan Unsur pembantu
pimpinan, ortom, maupun AUM harus selalu dalam koordinasi dengan Mejlis
Pendidikan Kader (MPK) di masing-masing tingkatan pimpinan persyarikatan. Untuk
efektivitas perencanaan dan pelaksanaan perkaderan, pimpinan AUM (bersama
majlis/lembaga yang membawahinya) berkoordinasi langsung dengan MPK. Sesuai
dengan fungsi, tugas dan wewenang yang diamanahkan kepada MPK, maka hal ini
menjadi bagian dari fungsi MPK dalam perkaderan.
D.
Tujuan Perkaderan
Muhammadiyah
Terbentuknya
kader Muhammadiyah yang memiliki ruh (spirit) serta mempunyai integritas dan
kompetensi untuk berperan di Persyarikatan, dalam kehidupan umat dan dinamika bangsa
serta konteks global.
E.
Jalur Kaderisasi
Muhammadiyah
Kaderisasi
dalam organisasi pada hakikatnya adalah totalitas upaya pembelajaran dan
pemberdayaan yang dilakukan secara sistematis, terpadu, terukur, dan
berkelanjutan dalam rangka melakukan pembinaan dan pengembangan kognitif,
afektif, dan psikomotorik setiap individu. Dalam melaksanakan program
perkaderan, Muhammadiyah telah menjadikan empat sektor sebagai jalur
kaderisasi, yaitu:
1.
Jalur Keluarga
Menurut Muhammadiyah,
fungsi keluarga ideal adalah sebagai media sosialisasi nilai-nilai Islam dan
juga wahana/media kaderisasi. Contoh kaderisasi lewat jalur keluarga misalnya
dengan memilih Channel TvMu (Tv Muhammadiyah) untuk dijadikan tontonan keluarga
di rumah, mengajak keluarga di rumah untuk mengahdiri pengajian-pengajian
Muhammadiyah, dll.
2.
Jalur Amal Usaha
Amal Usaha Muhammadiyah
(AUM) adalah kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan Muhammadiyah untuk
menunjang perwujudan tujuan persyarikatan, yaitu mewujudkan masyarakat Islam
yang sebenar-benarnya. Dintaranya adalah Rumah sakit (bidang kesehatan),
sekolah (bidang Pendidikan), dan lain-lainnya. Contoh kaderisasi lewat jalur
pendidikan adalah dengan disampaikannya secara berjenjang dan berkelanjutan
serta secara terus menerus materi al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
3.
Jalur Organisasi Otonom
Organisasi Otonom
(ortom) Muhammadiyah adalah jalur penting untuk memasok kader-kader muda yang
kelak dapat menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna anam usaha
Muhammadiyah.
4.
Jalur Program Khusus
(MPK)
Program khusus adalah
kegiatan-kegiatan, baik formal maupun non formal yang diselenggarakan oleh
Majelis Pendidikan Kader (MPK). Program-program ini dimaskudkan untuk membina
dan memberdayakan potensi sumber daya insani persyarikatan sehingga dapat
menjadi kader-kader yang tangguh. Kader-kader yang cleleng. Siap
dan tahan banting.
F.
Jenis dan Bentuk
Perkaderan Muhammadiyah
Perkaderan
Muhammadiyah dilaksanakan dengan menggunakan berbagai jenis kegiatan kaderisasi
yang terarah, terencana, dan berkesinambungan. Jenis-jenis kegiatan kaderisasi
yang dilaksanakan secara umum terdiri dari dua kategori, yaitu perkaderan utama
dan perkaderan fungsional.
1.
Perkaderan Utama
Perkaderan utama adalah
kegiatan kaderisasi pokok yang dilaksanakan dalam bentuk pendidikan atau
pelatihan untuk menyatukan visi dan pemahaman nilai ideologis serta aksi
gerakan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Persyarikatan atau MPK dan AUM.
Perkaderan utama terdiri dari dua bentuk Darul Arqam dan Baitul Arqam.
Perkaderan ini dilaksanakan dengan standar kurikulum yang baku dan waktu
penyelenggarannya pun ditetapkan dengan waktu tertentu.
Darul Arqam diprioritaskan
untuk Pimpinan Persyarikatan, Unsur Pembantu Pimpinan, dan Pimpinan Tertentu (top
manager) AUM. Darul Arqam diselenggarakan selama seminggu (untuk
puast), lima hari (wilayah), dan empat hari (untuk pimpinan AUM).
Sedang Baitul Arqam
sasarannya adalah untuk para anggota, simpatisan, dan pimpinan yang tidak dapat
mengikuti kegiatan Darul Arqam karena berbagai kendala. Baitul Arqam biasanya
diselenggarakan dalam tiga hari.
2.
Perkaderan Fungsional
Perkaderan Fungsional
adalah kegiatan kaderisasi yang terstruktur namun tidak ditetapkan standar
kurikulumnya secara baku untuk mencukupi kebutuha dan fungsi tertentu dari
Majelis atau Lembaga. Perkaderan fungsional dilaksanakan sebagai pendukung
perkaderan utama dan dilaksanakan dalam bentuk pendidikan, pelatihan, kursus,
dan kajian intensif.
Bentuk-bentuk kegiatan
perkaderan fungsional di antaranya adalah:
Ø Pelatihan Instruktur
Ø Pelatihan yang diselenggarakan Majelis dan Lembaga
Ø Pengajian Pimpinan
Ø Pengajian Khusus
Ø Pelatihan Tata Kelola Organisasi
Ø Diklat Khusus
G.
Arah Perkaderan
Muhammadiyah
Perkaderan pada hakekatnya merupakan pembinaan
personel anggota dan pimpinan secara terprogram dengan tujuan tertentu bagi
Persyarikatan. Dalam Muhammadiyah perkaderan dititikberatkan pada pembinaan
idiologi; pembinaan kepemimpinan; membangun kekuatan dan kualitas pelaku
gerakan, idiologi gerakan dan mengoptimalkan sistem kaderisasi yang menyeluruh
dan berorientasi ke masa depan. Dengan demikian, perkaderan Muhammadiyah
menjadi upaya penanaman nilai, sikap dan cara berpikir, serta peningkatan
kompetensi dan integritas terutama dalam aspek idiologi, kualitas kepemimpinan,
ilmu pengetahuan dan wawasan bagi segenap pipmpinan, kader dan anggota/warga Muhammadiyah.
Dengan kata lain, dalam perkaderan harus terjadi penyadaran, peneguhan dan
mengayaan. Upaya ini bisa dipahami dalam rincian berikut.
1.
Pembinaan KeIslaman
a. Penanaman nilai-nilai Islam sesuai dengan pandangan Muhammadiyah
b. Pembinaan aqidah
c. Pembinaan ibadah
d. Pembinaan akhlaq
e. Pembinaan mu’amalah duniawiyah
2.
Pembinaan Jiwa
Persyarikatan
a. Pemahaman sejarah dan dinamika garakan pembaharuan dan pemikiran Islam
dalam konteks memahami Muhammadiyah sebagai gerakan Islam
b. Meneguhkan ideologi gerakan Muhammadiyah
c. Penguatan etika dan kultur bermuhammadiyah
3.
Pembinaan Keilmuan dan
Wawasan
a. Pengembangan penguasaan metodologi keilmuan dan berpikir ilmiah
b. Penguasaan disiplin ilmu dan aplikasi teknologi sesuai bidang keahlian
masing-masing.
c. Pengembangan wawasan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan
d. Pemahaman dinamika dan peta perjuangan umat Islam
4.
Pembinaan Kepemimpinan
dan Menajemen
a. Kemampuan leadership
b. Pemahaman kemampuan manajeman organisasi
c. Penguasaan manajeman gerakan, manajemen ide, kemampuan advokasi dan
kemampuan pengambilan keputusan/kebijakan
d. Kemampuan manajemen pengembangan masyarakat
e. Pemahaman program Muhammadiyah
5.
Pembinaan Penguasaan
Keterampilan, Informasi dan Keilmuan
a. Pengembangan potensi diri kader sesuai minat dan bakatnya
b. Pengembangan kecakapan/keahlian dan profesi tertentu seperti kemampuan
analisis kebijakan publik, tehnik rekayasa sosial, tehnik-tehnik advokasi dan
strategi dakwah
c. Pengembangan kemampuan penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi,
jaringan media, internet dan komputer dalam kajian dari situasi agama serta
analisis data untuk keperluan dakwah Islam.
H.
Profil Kader
Muhammadiyah
Di bagian awal telah dijelaskan bahwa kader berarti
elite, yakni bagian terpilih dan terbaik karena terlatih. Bararti pula jantung
suatu organisasi. Kader juga berarti inti tetap dari suatu resimen. Daya juang
resimen ini sangat tergantung dari nilai kadernya yang merupakan tulang
punggung, pusat semangat dari inti gerakan suatu organisasi. Karena itu hanya
orang-orang yang bermutu itulah, yang terpilih dan berpengalaman dalam berbagai
medan perjuangan, yang taat dan berinisiatif, yang dapat disebut kader.Kader
Muhammadiyah sebagai hasil dari proses perkaderan adalah anggota inti yang
diorganisir secara permanen dan berkemampuan dalam menjalankan tugas serta misi
di lingkungan Persyarikatan, umat dan bangsa guna mencapai tujuan Muhammadiyah.
Karena itu hakekat kader Muhammadiyah bersifat tunggal, dalam arti hanya ada
satu profil kader Muhammadiyah. Sedangkan fungsi dan tugasnya bersifat majemuk
dan berdimensi luas, yakni sebagai kader Persyarikatan, kader umat dan kader
bangsa.
Sesuai dengan materi pembinaan dalam perkaderan, maka
kader Muhammadiyah tersebut harus memiliki kriteria tertentu dalam aspek
ideologi, ilmu pengetahuan, wawasan, dan kepemimpinan, sehingga kualitas Iman,
Islam dan Ihsan terpadu pada dirinya dalam menjalankan tugas Persyarikatan.
Profil kader Muhammadiyah harus mampu menunjukkan integritas dan kompetensi
akademis dan intelektual, kompetensi keberagamaan dan kompetensi
sosial-kemanusiaan guna menghadapi tantangan organisasi di masa
depan.Integritas dan kompetensi kader Muhammadiyah dalam tiga aspek ini dapat
dipahami dalam nilai-nilai dan indikatornya sebagai berikut:
1. Kompetensi keberagamaan, dicirikan dengan nilai-nilai:
a. Kemurnian aqidah (keyakinan berbasis tauhid yang bersumber pada ajaran Al
Qur’an dan Sunnah Nabi yang sahih/maqbullah)
b. Ketekunan beribadah (senantiasa menjalankan ibadah mahdhah, baik yang wajib
maupun yang sunnat tathawwu’ sesuai tuntunan Rasullah)
c. Keikhlasan (melakukan sesuatu semata-mata karena Allah SWT)
d. Shidiq (jujur dan dapat dipercaya)
e. Amanah (komitmen dan tanggung jawab moral yang tinggi dalam mengemban
tugas)
f. Berjiwa gerakan (semangat untuk aktif dalam Muhammadiyah sebagai panggilan
jihad di jalan Allah)
2. Kompetensi akademis dan intelektual , dicirikan dengan
nilai-nilai :
a. Fathonah (kecerdasan pikiran sebagai Ulul Albab)
b. Tajdid (pembaruan dan berpikiran maju dalam mengembangkan kehidupan sesuai
ajaran Islam)
c. Istiqomah (konsisten dalam pikiran dan tindakan)
d. Etos belajar (semangat dan kemauan keras untuk selalu belajar)
e. Moderat (arif dan mengambil posisi di tengah)
3. Kompetensi sosial kemanusiaan, dicirikan dengan
nilai-nilai :
a. Kesalehan (kepribadian yang baik dan utama)
b. Kepedulian sosial (keterpanggilan dalam meringankan beban hidup orang lain)
c. Suka beramal (gemar melaksanakan amal saleh untuk kemaslahatan hidup)
d. Tabligh (menyampaikan kebaikan kepada orang lain, komunikatif dan terampil
membangun jaringan)
Dalam
menjalankan tugas yang diembannya di manapun dan dalam suasana apapun, dengan
tiga jenis kompetensi itu setiap kader Muhammadiyah hendaknya mempunyai cara
berpikir, sikap mental, dan kesadaran berorganisasi, serta keikhlasan dalam
bingkai khas Persyarikatan:
1. Memahami hakikat Islam secara menyeluruh yang mencakup
aspek aqidah, ibadah, akhlaq dan mu’amalah duniawiyah, bersumberkan Al Qur’an
dan As Sunnah Al Maqbullah.
2. Melandasi segala sesuatu dengan niat ikhlas mencari
ridha Allah semata-mata.
3. Mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh dalam
segenap aspek kehidupannya, dan berusaha untuk menegakkan Islam dalam kehidupan
pribadi, kehidupan keluarga dan kehidupan bermasyarakat, sehingga terwujud
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
4. Memiliki semangat jihad untukmemperjuangkan Islam
5. Memiliki kemauan dan kesediaan untuk berkorban demi
Islam, baik korban waktu, harta, tenaga, bahkan nyawa sekalipun.
6. Mempunyai keteguhan hati dalam mengamalkan, menegakkan
dan memperjuangkan Islam, dengan arti kata tidak mundur karena ancaman dan
tidak terbujuk dengan rayuan dan selalu istiqomah dalam kebenaran
7. Mematuhi pimpinan dalam hal-hal yang disuai dan tidak
disukai selama berada dalam kebenaran
8. Mengamalkan ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan
bermasyarakat
9. Aktif dalam dakwah Islam (Muhammadiyah) secara murni
dan penuh.
10. Bisa dipercaya dan mempercayai orang lain dalam organisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar