TAAT BERIBADAH DAN KHALIFAH YANG AMANAH
Allah subhanahu
wa ta'ala telah menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk (ahsanu
taqwim). Memiliki jasmani dan ruhani, yang dilengkapi dengan nafsu dan akal
fikiran. Dengan nafsunya manusia menjadi memiliki gairah hidup untuk berjuang
menggapai apa yang dicita-citakan, dan dengan akal fikirannya manusia akan
dapat membedakan mana yang dibolehkan oleh agama dan mana yang dilarang oleh
agama.
Sebagai wujud rasa syukur sebagai makhluk Allah yang diciptakan dengan bentuk sebaik-baiknya adalah dengan taat beribadah kepada Allah dan mengabdi kepadaNya dengan sebaik-baiknya.
A. Abdullah
Manusia merupakan makhluk Allah yang tercipta dengan bentuk
yang paling baik (ahsanu taqwim). Manusia memiliki potensi jasmani
maupun ruhani yang sangat memadahi untuk berbagai aktivitas. Potensi jasmani
manusia dari ujung rambut sampai ujung kaki menunjukkan sebuah anugerah yang
didesain mampu untuk melakukan berbagai macam pekerjaan yang barangkali sulit
dikerjakan oleh makhuk yang lain. Potensi ruhani manusia yang dilengkapi dengan
akal dan hati merupakan potensi yang menjadi kunci pembeda dengan hewan yang
cenderung buas dan beringas. Akal dan hati menjadikan manusia mampu berperangai
santun dan lembut serta berbuat penuh dengan berbagai pertimbangan
kemanusiaan.
Selain menjadi abdullah, manusia juga memiliki tugas lain untuk memakmurkan
bumi agar terhindar dari kerusakan serta untuk menegakkan aturan-aturan
(syariat) Allah di atasnya (khalifah). Desain berbagai macam keistimewaan
potensi yang diberikan oleh Allah kepada manusia, salah satunya adalah untuk
menjalankan misi yang mulia ini. Manusia yang berkualitas adalah manusia yang
mampu untuk menjadi khalifatullah fil ardh dengan penuh amanah.
Khalifatullah fil ardh adalah tugas yang diberikan oleh
Allah kepada manusia. Khalifatullah fil ardh memiliki tugas dan kewajiban untuk
menegakkan aturan-aturan Allah di atas muka bumi. Sebagai Khalifatullah fil
ardh, manusia wajib menjunjung tinggi syariat-syariat Allah yang terangkum
dalam agama Islam. Apabila aturan-aturan Islam dijunjung tinggi, Allah akan
menganugerahkan sebuah bumi yang makmur sentosa dan penuh ampunan dari segala
dosa (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).
Selain menegakkan aturan-aturan Allah di bumi, manusia sebagai khalifatullah fil ardh memiliki kewajiban untuk memakmurkan bumi dan menjaga bumi dari berbagai macam kerusakan. Manusia diperkenankan untuk memanfaatkan segala Sumber Daya Alam (SDA) yang ada sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah). Pemanfaatan SDA tidak boleh sampai berdampak kepada kerusakan lingkungan yang dapat merugikan eksistensi manusia itu sendiri. Dalam menjalankan misi khalifatullah fil ardh, manusia harus memikulnya dengan penuh amanah dan menjauhi sifat khianat. Berbuat kemaksiatan di bumi Allah, merusak SDA di bumi Allah adalah bentuk khianat seorang khalifah kepada Sang Raja, yaitu Allah Ta’ala.
Tujuan Penciptaan Manusia
Manusia diciptakan
oleh Allah dengan tujuan untuk beribadah (mengabdi) kepada Allah subhanahu
wa ta'ala sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam Al-Quran surat
Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."
(Adz-Dzariyat ayat 56)
Analisis Tajwid QS. Adz-Dzariyat ayat 56
|
No |
Lafal |
Hukum Bacaan |
Alasan/Keterangan |
|
1 |
مَا |
Mad
Thabi’i/Mad Ashli |
Ada huruf
hijaiyyah yaitu mim (م) berharakat fathah (ــَــ) bertemu
dengan Alif |
|
2 |
خَلَقْتُ |
Qalqalah
sughra |
Ada huruf
Qaf (ق) sukun/mati di tengah kata |
|
3 |
الْجِنَّ |
Alif lam
qamariyah/idhar qamariyah |
Alif lam
(AL) ma’rifahnya terbaca jelas |
|
4 |
وَالْإِنْسَ |
Idhar
qamariyah dan Ikhfa haqiqi |
- Alif lam
(AL) ma’rifahnya terbaca jelas Ada
huruf nun (ن) sukun/mati bertemu huruf sin (س) |
|
5 |
إِلَّا |
Mad
Thabi’i/Mad Ashli |
Ada huruf
hijaiyyah yaitu lam (ل) berharakat fathah (ــَــ) bertemu
dengan Alif |
|
6 |
لِيَعْبُدُونِ |
Mad ‘aridh
lissukun |
Mad
Thabi’I bertemu nun di akhir ayat
Bila ada mad thabi’I bertemu huruf hijaiyyah yang disukun/mati dalam
satu kata karena waqaf/berhenti |
Allah Azza wa Jalla
memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka
melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah Maha Kaya,
tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya,
karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak
beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah kepada-Nya
tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’
(pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa
yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).
Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai
Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang
bathin.
Ibadah terbagi menjadi
ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap),
mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah
(takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih,
tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah
qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah
ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam
ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.
Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah dijelaskan pengertian
ibadah. Menurut HPT, ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan
menjalankan perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya, dan
mengamalkan segala yang diizinkan oleh Allah.
Ibadah ada yang umum (ghairu
mahdhah) dan ada yang khusus (Mahdhah). Ibadah yang umum adalah
segala amal yang diizinkan Allah. Sementara ibadah khusus adalah apa yang telah
ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkah, dan cara-caranya yang
tertentu.
Hadits Tentang Beribadah Dengan Mengesakan Allah
Hadits riwayat Muslim ini berisi jaminan bagi manusia yang menyembah
(beribadah) hanya kepada Allah, pasti dia kelak akan masuk surga. Pelajar
Muhammadiyah harus selalu menjunjung tinggi kalimat tauhid (Laa ilaaha
illallaah) dalam hidupnya. Menjaganya dan mengaplikasikan tuntutan dari kalimat
tauhid tersebut sepanjang hidupnya. Sehingga kelak ketika berjumpa Allah dalam
kondisi mentauhidkan (mengesakan) Allah Subhanahu wa ta'ala.
Ayat Al-Quran tentang
Manusia Sebagai Khalifah
QS. Al-Baqarah ayat 30
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ
لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ
فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ
وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
Artinya:
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka
berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan
darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Dia
berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS.
Al-Baqarah 2: Ayat 30)
Isi kandungan QS. Al-Baqarah ayat 30:
- Allah menciptakan manusia untuk
dijadikan khalifah di bumi
- Malaikat meragukan (sangsi) terhadap
kemampuan manusia
- Keraguan malaikat dibantah langsung
oleh Allah
- Allah menegetahui apa yang tidak
diketahui malaikat (Allah Maha Tahu)
Hadits Tentang Kepemimpinan
" Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin". (Muttafaqun 'alaih/HR. Bukhari dan Muslim)
Allah berfirman dan QS. An-Nahl ayat 78:
Allah SWT berfirman:
وَٱللَّهُ
جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَجَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُم
بَنِينَ وَحَفَدَةٗ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِۚ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ
يُؤۡمِنُونَ وَبِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ هُمۡ يَكۡفُرُونَ (٧٢)
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati
nurani, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl 16: Ayat 78)
Adapun isi Kandungan Surah An-Nahl Ayat 78 yaitu:
- Bahwa manusia dilahirkan kedunia dalam keadaan tidak mengerti apa-apa, lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa bahkan membutuhkan bantuan orang lain. Dengan menyadari hal itu maka manusia akan terjauh dari sifat sombong dan takabur
- Allah membekali manusia dengan 3 hal : pendengaran, penglihatan dan hati nurani agar manusia bersyukur dan memanfaatkannya dengan baik untuk meraih ilmu pengetahuan
- Allah lebih dahulu menyebutkan pendengaran daripada penglihatan. Dalam ilmu embrio dijelaskan bahwa pendengaran sudah berkembang saat manusia dalam bentuk janin, perkembangan telinga akan sempurna apabila janin telah berusia 5 bulan, sedangkan mata akan mencapai kesempurnaan setelah kelahiran. Jadi jani sudah mampu mendengar suara namun belum mampu melihat cahaya dan gambar
Hadits riwayat Hakim tentang pemanfaatan kesempatan untuk beribadah
Lakukanlah lima hal sebelum terwujud lima hal yang lain. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :
[1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)
Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya: “Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta.” Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, maksudnya: “Beramallah di waktu sehat, sebelum datang waktu yang menghalangi untuk beramal seperti di waktu sakit.” Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, maksudnya: “Manfaatklah kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum datang waktu sibukmu di akhirat nanti. Dan awal kehidupan akhirat adalah di alam kubur.” Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, maksudnya: ”Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak harta tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia maupun akhirat.” Hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya: “Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk kehidupan sesudah matimu, karena siapa pun yang mati, maka akan terputus amalannya.”
Al Munawi mengatakan,
“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)
Benarlah kata Al Munawi. Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di masa muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal. Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia.
RANGKUMAN


Tidak ada komentar:
Posting Komentar