Selasa, 01 September 2020

AL-QUR'AN HADITS KELAS X BAB 2 - TAAT BERIBADAH DAN KHALIFAH YANG AMANAH

 TAAT BERIBADAH DAN KHALIFAH YANG AMANAH

Allah subhanahu wa ta'ala telah menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk (ahsanu taqwim). Memiliki jasmani dan ruhani, yang dilengkapi dengan nafsu dan akal fikiran. Dengan nafsunya manusia menjadi memiliki gairah hidup untuk berjuang menggapai apa yang dicita-citakan, dan dengan akal fikirannya manusia akan dapat membedakan mana yang dibolehkan oleh agama dan mana yang dilarang oleh agama. 

Sebagai wujud rasa syukur sebagai makhluk Allah yang diciptakan dengan bentuk sebaik-baiknya adalah dengan taat beribadah kepada Allah dan mengabdi kepadaNya dengan sebaik-baiknya.

 Makna Hamba Abdullah dan Khalifatullah Fil Ardh

A. Abdullah

          Manusia merupakan makhluk Allah yang tercipta dengan bentuk yang paling baik (ahsanu taqwim). Manusia memiliki potensi jasmani maupun ruhani yang sangat memadahi untuk berbagai aktivitas. Potensi jasmani manusia dari ujung rambut sampai ujung kaki menunjukkan sebuah anugerah yang didesain mampu untuk melakukan berbagai macam pekerjaan yang barangkali sulit dikerjakan oleh makhuk yang lain. Potensi ruhani manusia yang dilengkapi dengan akal dan hati merupakan potensi yang menjadi kunci pembeda dengan hewan yang cenderung buas dan beringas. Akal dan hati menjadikan manusia mampu berperangai santun dan lembut serta berbuat penuh dengan berbagai pertimbangan kemanusiaan. 

           Manusia juga dilengkapi dengan kecenderungan kebaikan (ilham taqwa), namun juga memiliki kecenderungan keburukan (ilham fujur). Oleh karena itu, akal manusia di antara fungsinya adalah untuk membedakan antara yang benar (haq) maupun yang buruk (bathil). Berbagai potensi yang dimiliki oleh manusia tersebut adalah untuk melaksanakan misi hidup yang lebih mulia, berbeda dengan misi hidup binatang yang memiliki kecenderungan memperturutkan hawa nafsu karena memang tidak dibekali filter untuk membedakan yang baik dan buruk. Tugas manusia memang sangat mulia, yaitu untuk beribadah kepada Allah Sang Pencipta (Khaliq). Oleh karena tugas manusia adalah untuk beribadah kepada Allah, dia disebut sebagai hamba Allah (abdullah).

           Hamba Allah (abdullah) adalah makhluk Allah yang memiliki kewajiban untuk melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang. Kehidupan manusia adalah sebuah anugerah untuk disyukuri. Cara mensyukuri anugerah tersebut adalah dengan memanfaatkan seluruh potensi yang diberikan oleh Allah kepada manusia, sepenuhnya untuk taat kepada-Nya. Hidup ini bukanlah untuk berfoya-foya. Hidup ini bukanlah untuk mencari kesenangan semata. Hidup manusia yang hakiki adalah untuk merendahkan diri, mengabdi,dan mengagungkan-Nya.

 B. Khalifatullah fil ardh

          Selain menjadi abdullah, manusia juga memiliki tugas lain untuk memakmurkan bumi agar terhindar dari kerusakan serta untuk menegakkan aturan-aturan (syariat) Allah di atasnya (khalifah). Desain berbagai macam keistimewaan potensi yang diberikan oleh Allah kepada manusia, salah satunya adalah untuk menjalankan misi yang mulia ini. Manusia yang berkualitas adalah manusia yang mampu untuk menjadi khalifatullah fil ardh dengan penuh amanah.

          Khalifatullah fil ardh adalah tugas yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Khalifatullah fil ardh memiliki tugas dan kewajiban untuk menegakkan aturan-aturan Allah di atas muka bumi. Sebagai Khalifatullah fil ardh, manusia wajib menjunjung tinggi syariat-syariat Allah yang terangkum dalam agama Islam. Apabila aturan-aturan Islam dijunjung tinggi, Allah akan menganugerahkan sebuah bumi yang makmur sentosa dan penuh ampunan dari segala dosa (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).

          Selain menegakkan aturan-aturan Allah di bumi, manusia sebagai khalifatullah fil ardh memiliki kewajiban untuk memakmurkan bumi dan menjaga bumi dari berbagai macam kerusakan. Manusia diperkenankan untuk memanfaatkan segala Sumber Daya Alam (SDA) yang ada sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah). Pemanfaatan SDA tidak boleh sampai berdampak kepada kerusakan lingkungan yang dapat merugikan eksistensi manusia itu sendiri. Dalam menjalankan misi khalifatullah fil ardh, manusia harus memikulnya dengan penuh amanah dan menjauhi sifat khianat. Berbuat kemaksiatan di bumi Allah, merusak SDA di bumi Allah adalah bentuk khianat seorang khalifah kepada Sang Raja, yaitu Allah Ta’ala.

Tujuan Penciptaan Manusia

Manusia diciptakan oleh Allah dengan tujuan untuk beribadah (mengabdi) kepada Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam Al-Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56:

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (Adz-Dzariyat ayat 56)

 

Analisis Tajwid QS. Adz-Dzariyat ayat 56

 

 

No

 

Lafal

 

Hukum Bacaan

 

Alasan/Keterangan

1

مَا

Mad Thabi’i/Mad Ashli

Ada huruf hijaiyyah yaitu mim (م) berharakat fathah (ــَــ) bertemu dengan Alif

2

خَلَقْتُ

Qalqalah sughra

Ada huruf Qaf (ق) sukun/mati di tengah kata

3

الْجِنَّ

Alif lam qamariyah/idhar qamariyah

Alif lam (AL) ma’rifahnya terbaca jelas

4

وَالْإِنْسَ

Idhar qamariyah dan Ikhfa haqiqi

- Alif lam (AL) ma’rifahnya terbaca jelas

  Ada huruf nun (ن) sukun/mati bertemu huruf sin (س)

5

إِلَّا

Mad Thabi’i/Mad Ashli

Ada huruf hijaiyyah yaitu lam (ل) berharakat fathah (ــَــ) bertemu dengan Alif

6

لِيَعْبُدُونِ

Mad ‘aridh lissukun

Mad Thabi’I bertemu nun di akhir ayat

 

    Bila ada mad thabi’I bertemu huruf hijaiyyah yang disukun/mati dalam satu kata karena waqaf/berhenti

 

Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).

 Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut istilah (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah berikut ini:

Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin.

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.

Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah dijelaskan pengertian ibadah. Menurut HPT, ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya, dan mengamalkan segala yang diizinkan oleh Allah.

Ibadah ada yang umum (ghairu mahdhah) dan ada yang khusus (Mahdhah). Ibadah yang umum adalah segala amal yang diizinkan Allah. Sementara ibadah khusus adalah apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkah, dan cara-caranya yang tertentu.

 Contoh amal ibadah yang umum misalnya manusia beribadah dengan mendirikan sekolah, rumah sakit, lembaga ZIS (zakat, infaq, shadaqah), dan lain-lainnya.

 Sedangkan ibadah yang bersifat khusus contohnya seperti: shalat, puasa, hajji, dan lain-lainnya. Ibadah-ibadah tersebut sifatnya final. Kita tidak boleh menambah-nambah atau berkreasi dengan model lainnya. Misal shalat subuh 2 rakaat. Karena dilaksanakan pagi hari dan kondisi badan sedang segar-segarnya, maka kita berkreasi dengan melaksanakan shalat subuh sebanyak 10 rakaat. Maka perbutan seperti ini dilarang dan berdosa.

Hadits Tentang Beribadah Dengan Mengesakan Allah

 (HR. Muslim)

Hadits riwayat Muslim ini berisi jaminan bagi manusia yang menyembah (beribadah) hanya kepada Allah, pasti dia kelak akan masuk surga. Pelajar Muhammadiyah harus selalu menjunjung tinggi kalimat tauhid (Laa ilaaha illallaah) dalam hidupnya. Menjaganya dan mengaplikasikan tuntutan dari kalimat tauhid tersebut sepanjang hidupnya. Sehingga kelak ketika berjumpa Allah dalam kondisi mentauhidkan (mengesakan) Allah Subhanahu wa ta'ala. 

 Manusia Sebagai Khalifah di Bumi

Ayat Al-Quran tentang Manusia Sebagai Khalifah

QS. Al-Baqarah ayat 30

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

Artinya:
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Dia berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

Isi kandungan QS. Al-Baqarah ayat 30:
- Allah menciptakan manusia untuk dijadikan khalifah di bumi
- Malaikat meragukan (sangsi) terhadap kemampuan manusia
- Keraguan malaikat dibantah langsung oleh Allah
- Allah menegetahui apa yang tidak diketahui malaikat (Allah Maha Tahu)

Hadits Tentang Kepemimpinan

" Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin". (Muttafaqun 'alaih/HR. Bukhari dan Muslim)

 Potensi yang Dimiliki Manusia

 Sebagai hamba Allah ('Abdullah) dan untuk menjalankan misinya sebagai khalifah  di muka bumi (khalifatullah fil ardhi) manusia dibekali oleh Allah berupa potensi yang luar biasa. Yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. 

Allah berfirman dan QS. An-Nahl ayat 78:

Allah SWT berfirman:

وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا وَجَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةٗ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِۚ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ وَبِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ هُمۡ يَكۡفُرُونَ  (٧٢)


"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl 16: Ayat 78)

Adapun isi Kandungan Surah An-Nahl Ayat 78  yaitu:

  1. Bahwa manusia dilahirkan kedunia dalam keadaan tidak mengerti apa-apa, lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa bahkan membutuhkan bantuan orang lain. Dengan menyadari hal itu maka manusia akan terjauh dari sifat sombong dan takabur
  2. Allah membekali manusia dengan 3 hal : pendengaran, penglihatan dan hati nurani agar manusia bersyukur dan memanfaatkannya dengan baik untuk meraih ilmu pengetahuan
  3. Allah lebih dahulu menyebutkan pendengaran daripada penglihatan. Dalam ilmu embrio dijelaskan bahwa pendengaran sudah berkembang saat manusia dalam bentuk janin, perkembangan telinga akan sempurna apabila janin telah berusia 5 bulan, sedangkan mata akan mencapai kesempurnaan setelah kelahiran. Jadi jani sudah mampu mendengar suara namun belum mampu melihat cahaya dan gambar

Hadits riwayat Hakim tentang pemanfaatan kesempatan untuk beribadah

Lakukanlah lima hal sebelum terwujud lima hal yang lain. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ


Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :

[1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,

[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya: “Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta.” Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, maksudnya: “Beramallah di waktu sehat, sebelum datang waktu yang menghalangi untuk beramal seperti di waktu sakit.” Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, maksudnya: “Manfaatklah kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum datang waktu sibukmu di akhirat nanti. Dan awal kehidupan akhirat adalah di alam kubur.” Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, maksudnya: ”Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak harta tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia maupun akhirat.” Hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya: “Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk kehidupan sesudah matimu, karena siapa pun yang mati, maka akan terputus amalannya.”

Al Munawi mengatakan,

فَهِذِهِ الخَمْسَةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلاَّ بَعْدَ زَوَالِهَا

Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)

Benarlah kata Al Munawi. Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di masa muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal. Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia.

RANGKUMAN



Tidak ada komentar:

Posting Komentar