DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW PERIODE MAKKAH
A. Kondisi Sosio – Kultural Makkah Sebelum Islam
1.
Peta Geografis
Kota Makkah merupakan salah
satu kota yang berada di jazirah Arab. Kota ini berada di sebelah selatan
Semenanjung Arabia. Kota ini terletak di dasar sebuah lembah yang di kelilingi
oleh gunung – gunung dari berbagai arah.
-
Di sebelah timur terbentang
Gunung Abu Qabis
-
Di sebelah barat dibatasi
oleh Gunung Qaiqa’an
-
Dataran rendah dikenal dengan
nama Al-Baththa, yang dibagian tengah terdapat bangunan ka’bah
-
Di sekeliling ka’bah terdapat
rumah rumah penduduk suku Quraisy
-
Dataran tinggi dikenal dengan
nama ma’la
- Kota makkah terletak diantara 2 kerajaan besar yaitu kerajaan Persia dan kerajaan Rum (Romawi)
2.
Peta Sosial
Sungguh mengharukan sekali kondisi sosial bangsa Arab pra-Islam. Terlebih
bagi kaum wanita, budaya tersebut sangat diskriminatif. Wanita seolah-olah
hanya sebagai makhluk lemah yang tak berguna. Sehingga dimanfaatkan dengan
semaunya oleh kaum laki-laki. Tak peduli apatah itu akan melukai hati dan
psikologis wanita tersebut. Terpenting adalah kaum laki-laki pada masa itu bisa
memenuhi nafsu syahwatnya.
Abu Daud meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallhu Anhu, bahwa pernikahan pada
masa jahiliyah ada empat macam:
a)
Pernikahan secara spontan. Seorang
laki-laki mengajukan lamaran kepada laki-laki lain yang menjadi wali wanita,
lalu dia menikahinya setelah menyerahkan maskawin seketika itu pula.
b)
Seorang laki-laki bisa berkata kepada
istrinya yang baru suci dari haid, “Temuilah fulan dan berkumpullah
bersamanya!” Suaminya tidak mengumpulinya dan sama sekali tidak menyentuhnya,
hingga ada kejelasan bahwa istrinya hamil dari orang yang disuruh mengumpulinya.
Jika sudah jelas kehamilannya, maka suami bisa mengambil kembali istrinya, jika
memang dia menghendaki hal itu. Yang demikian ini dilakukan, karena dia
menghendaki kelahiran seorang anak yang baik dan pintar. Pernikahan semacam ini
disebut nikah istibdha’.
c)
Pernikan poliandri, pernikahan beberapa
orang laki-laki yang jumlahnya tidak mencapai sepuluh orang, yang semuanya
mengumpuli seorang wanita. Setelah wanita itu hamil dan melahirkan bayinya,
maka selang beberapa hari kemudian dia mengundang semua laki-laki yang
berkumpul dengannaya. Lalu dia berkata, “Kalian
sudah mengetahui apa yang sudah terjadi dan kini aku telah melahirkan.
Bayi ini adalah anakmu hai fulan.“ Dia menunjuk siapa pun yang dia sukai di
antara mereka seraya menyebutkan namanya, lalu laki-laki itu bisa mengambil
bayi tersebut.
d) Sekian banyak laki-laki bisa mendatangi wanita yang dikendakinya yang juga
disebut wanita pelacur. Biasanya mereka memasang bendera khusus di depan
pintunya, sebagai tanda bagi laki-laki yang ingin mengumpulinya. Jika wanita
pelacur ini hamil dan melahirkan anak, dia bisa mengundang semua laki-laki yang
pernah mengumpulinya. Setelah semua berkumpul, diselenggarakan undian. Siapa
yang namanya keluar dalam undian, maka dia yang berhak mengambil anak itu dan
mengaku sebagai anaknya. Dia tidak bisa menolak hal itu.
Demikianlah kondisi sosial bangsa Arab. Terdapat lapisan masyarakat yang
beragam dengan kondisi yang berbeda-beda.
Kondisi ekonomi mengikuti kondisi sosial, yang bisa dilihat dari jalan
kehidupan bangsa Arab. Perdagangan merupakan sarana yang paling dominan untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Jalur-jalur perdagangan tidak bisa dikuasai begitu
saja kecuali jika sanggup memegang kendali keamanan dan perdamaian.
Tentang perindustrian atau kerajinan, mereka adalah bangsa yang paling
mengenalnya. Kebanyakan hasil kerajianan yang ada di Arab seperti
jahit-menjahit, menyamak kulit dan lain-lainnya berasal dari rakyat Yaman,
Hirah, dan pinggiran Syam Untuk melacak asal-usul bangsa Arab, para sejarawan
merunut jauh ke belakang, yaitu pada sosok Ibrahim ‘Alaihis Salam dan
keturunannya yang merupakan keturunan Sam bin Nuh
Secara geneaologis
–garis keturunan– para sejarawan membagi bangsa Arab menjadi tiga, yaitu:
a) Arab Ba’idah
Arab Ba’idah, yaitu kaum-kaum Arab terdahulu yang
sejarahnya tidak bisa dilacak secara rinci dan komplit, seperti Ad, Tsamud,
Thasm, Jadis, Imlaq, dan lain-lainnya.
b) Arab Aribah
Arab Aribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari
keturunan Ya’ruf Yasyjub bin Qahthan atau disebut pula Arab Qahthaniyah.
c) Arab Musta’rabah
1.
Paham Keagamaan
Masyarakat pada umumnya dan Makkah khususnya, mempunyai berbagai
paham keagamaan. Adapun berbagai macam kepercayaan bangsa Arab sebelum Islam
adalah sebagai berikut :
a)
Mengundi Nasib
Masyarakat Arab dikenal dengan masyarakat yang senang mengundi
nasib melalui sebuah permainan. Alat yang digunakan adalah al-azlam, yaitu batang anak panah yang tidak ada bulunya. Anak panah
yang pertama diberi tulisan “ya”, anak panah yang kedua diberi tulisan “tidak”
dan anak panah yang ketiga tanpa ada tulisan apapun. Apabila yang keluar anak
pernah yang ditulisi “ya” mereka akan melaksanakan pekerjaan yang telah
direncanakan. Jika yang muncul anak panah yang ditulisi “tidak” mereka akan
menunda hingga tahun berikutnya. Akan tetapi apabila yang keluar anak panah
yang tidak ada tulisannya, maka undian akan diulang.
Al Azlam dilakukan oleh
bangsa Arab ketika mereka akan melakukan acara atau hajatan, seperti pernikahan
atau perjalanan. Mereka mengundinya dengan menggunakan ketiga anak panah tersebut.
Kebiasaan tersebut telah menjadi budaya dan adat istiadat yang diwariskan
secara turun temurun.
b)
Menyembah Bebatuan
Selain Al-Azlam bangsa
Arab menjadikan bebatuan sebagai sesembahan. Batu yang bentuknya bagus akan
dijadikan sebagai Tuhan yang mereka sembah. Akan tetapi ketika menemukan batu
lain yang lebih bagus, merekapun mengganti batu yang lama dengan batu yang baru
begitu seterusnya.
c)
Takhayul dan Khurafat
Takhayul dan khurafat menjadi bagian dari tradisi kehidupa
d)
Menyembah Berhala (Paganisme)
e)
Menyembah benda benda langit (bintang dan planet)
f)
Menyembah api
Tidak ada komentar:
Posting Komentar