Rabu, 09 September 2020

TARIKH KELAS XII BAB 2 - STRATEGI DAKWAH ISLAM DI NUSANTARA (INDONESIA)

 STRATEGI DAKWAH ISLAM DI NUSANTARA (INDONESIA)

A.   Strategi Dakwah Para Mubaligh dalam Penyebaran Islam ke Indonesia

Dari pembahasan tentang masuknya Islam ke Nusantara, dapat dipahami bahwa masuknya agama Islam ke Indonesia terjadi secara periodik, tidak sekaligus. Pada bagian ini akan diuraikan mengenai strategi penyebaran Islam dan media yang dipergunakan oleh para pedagang dan mubaligh dalam penyebaran Islam di Indonesia.

Salah satu arti “strategi” yang dimuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus”. Dalam konteks dakwah Islam, strategi dakwah yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para mubaligh, yang membawa misi Islam di dalamnya.   

Dari kajian di atas dan berbagai literatur, setidaknya terdapat beberapa kegiatan yang dipergunakan sebagai kendaraan (sarana) dalam penyebaran Islam di Indonesia, di antaranya adalah: perdagangan, perkawinan, pendidikan, kesenian, dan tasawuf. Berikut uraian singkat mengenai hal tersebut.

1.            Perdagangan

Pada tahap awal, saluran yang dipergunakan dalam proses Islamisasi di Indonesia adalah perdagangan. Hal itu dapat diketahui melalui adanya kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 M hingga abad ke-16 M. Aktivitas perdagangan ini banyak melibatkan bangsa-bangsa di dunia, termasuk bangsa Arab, Persia, India, Cina dan sebagainya. Mereka turut ambil bagian dalam perdagangan di negeri-negeri bagian Barat, Tenggara, dan Timur Benua Asia.

Saluran Islamisasi melalui jalur perdagangan ini sangat menguntungkan, karena para raja dan bangsawan turut serta dalam aktivitas perdagangan tersebut. Bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham perdagangan  itu. Fakta sejarah ini dapat diketahui berdasarkan data dan informasi penting yang dicatat Tome’ Pires bahwa para pedagang muslim banyak yang bermukim di pesisir pulau Jawa yang ketika itu penduduknya masih kafir. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan mendatangkan mullahmullah dari luar, sehingga jumlah mereka semakin bertambah banyak. Dalam perkembangan selanjutnya, anak keturunan mereka menjadi penduduk muslim yang kaya raya.

Pada beberapa tempat, para penguasa Jawa, yang menjabat sebagai bupati-bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir pulau Jawa banyak yang masuk Islam. Keislaman mereka bukan hanya disebabkan oleh faktor politik dalam negeri yang tengah goyah, tetapi terutama karena faktor hubungan ekonomi dengan para pedagang ini sangat menguntungkan secara material bagi mereka, yang pada akhirnya memperkuat posisi dan kedudukan sosial mereka di masyarakat Jawa. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, mereka mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di tempat tinggal mereka.

Hubungan perdagangan ini dimanfaatkan oleh para pedagang muslim sebagai sarana atau media dakwah. Sebab, dalam Islam setiap muslim memiliki kewajiban untuk menyebarkan ajaran Islam kepada siapa saja dengan tanpa paksaan. Oleh karena itu, ketika penduduk Nusantara banyak yang berinteraksi dengan para pedagang muslim, dan keterlibatan mereka semakin jauh dalam aktivitas perdagangan, banyak di antara mereka yang memeluk Islam. Karena pada saat itu, jalur-jalur strategis perdagangan internasional hampir sebagian besar dikuasai oleh para pedagang muslim. Apabila para penguasa lokal di Indonesia ingin terlibat jauh dengan perdagangan internasional, maka mereka harus berperan aktif dalam perdagangan internasional dan harus sering berinteraksi dengan para pedagang muslim.            

2.            Perkawinan

Dari aspek ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik daripada kebanyakan penduduk pribumi. Hal ini menyebabkan banyak penduduk pribumi, terutama para wanita, yang tertarik untuk menjadi isteri-isteri para saudagar muslim. Hanya saja ada ketentuan hukum Islam, bahwa para wanita yang akan dinikahi harus diislamkan terlebih dahulu. Para wanita dan keluarga mereka tidak merasa keberatan, karena proses pengIslaman hanya dengan mengucapkan dua kalimah syahadat, tanpa upacara atau ritual rumit lainnya.

Setelah itu, mereka menjadi komunitas muslim di lingkungannya sendiri. KeIslaman mereka menempatkan diri dan keluarganya berada dalam status sosial dan ekonomi cukup tinggi. Sebab, mereka menjadi muslim Indonesia yang kaya dan berstatus sosial terhormat. Kemudian setelah mereka memiliki keturunan, lingkungan mereka semakin luas. Akhirnya timbul kampung-kampung dan pusat-pusat kekuasaan Islam.

Dalam perkembangan berikutnya, ada pula para wanita muslim yang dikawini oleh keturunan bangsawan lokal. Hanya saja, anak-anak para bangsawan tersebut harus diIslamkan terlebih dahulu. Dengan demikian, mereka menjadi keluarga muslim dengan status sosial ekonomi dan posisi politik penting di masyarakat.

Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan lagi apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak bangsawan atau anak raja atau anak adipati. Karena raja, adipati, atau bangsawan itu memiliki posisi penting di dalam masyarakatnya, sehingga mempercepat proses Islamisasi. Beberapa contoh yang dapat dikemukakan di sini adalah, perkawinan antara Raden Rahmat atau Sunan Ngampel dengan Nyai Manila, antara Sunan Gunung Jati dengan Puteri Kawunganten, Brawijaya dengan Puteri Campa, orangtua Raden Patah, raja kerajaan Islam Demak dan lain-lain.

3.            Pendidikan

Proses Islamisasi di Indonesia juga dilakukan melalui media pendidikan. Para ulama banyak yang mendirikan lembaga pendidikan Islam, berupa pesantren. Pada lembaga inilah, para ulama memberikan pengajaran ilmu keIslaman melalui berbagai pendekatan sampai kemudian para santri mampu menyerap pengetahuan keagamaan dengan baik. Setelah mereka dianggap mampu, mereka kembali ke kampung halaman untuk mengembangkan agama Islam dan membuka lembaga yang sama. Dengan demikian, semakin hari lembaga pendidikan pesantren mengalami perkembangan, baik dari segi jumlah maupun mutunya.

Lembaga pendidikan Islam ini tidak membedakan status sosial dan kelas, siapa saja yang berkeinginan mempelajari atau memperdalam pengetahuan Islam, diperbolehkan memasuki lembaga pendidikan ini. Dengan demikian, pesantren-pesantren dan para ulamanya telah memainkan peran yang cukup penting di dalam proses pencerdasan kehidupan masyarakat, sehingga banyak masyarakat yang kemudian tertarik memeluk Islam.

Di antara lembaga pendidikan pesantren yang tumbuh pada masa awal Islam di Jawa, adalah pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta. Kemudian pesantren Giri yang didirikan oleh Sunan Giri, popularitasnya melampaui batas pulau Jawa hingga ke Maluku. Masyarakat yang mendiami pulau Maluku, terutama Hitu, banyak yang berdatangan ke pesantren Sunan Giri untuk belajar ilmu agama Islam. Bahkan Sunan Giri dan para ulama lainnya pernah diundang ke Maluku untuk memberikan  pelajaran agama Islam. Banyak di antara mereka yang menjadi khatib, muadzin, hakim (qadli) dalam masyarakat Maluku dengan memperoleh imbalan cengkeh.

Dengan cara-cara seperti itu, maka agama Islam terus tersebar ke seluruh penjuru Nusantara, hingga akhirnya banyak penduduk Indonesia yang menjadi muslim. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa model pendidikan pesantren yang tidak mengenal kelas menjadi media penting di dalam proses penyebaran Islam di Indonesia, bahkan kemudian diadopsi untuk pengembangan pendidikan keagamaan pada lembaga-lembaga pendidikan sejenis di Indonesia. 

4.            Tasawuf

Jalur lain yang juga tidak kalah pentingnya dalam proses Islamisasi di Indonesia adalah tasawuf. Salah satu sifat khas dari ajaran ini adalah akomodasi terhadap budaya lokal, sehingga menyebabkan banyak masyarakat Indonesia yang tertarik menerima ajaran tersebut. Pada umumnya, para pengajar tasawuf atau para sufi adalah guru-guru pengembara, dengan sukarela mereka menghayati kemiskinan, juga seringkali berhubungan dengan perdagangan, mereka mengajarkan teosofi yang telah bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam hal magis, dan memiliki kekuatan menyembuhkan. Di antara mereka ada juga yang menikahi gadis-gadis para bangsawan setempat.

Dengan tasawuf, bentuk Islam yang diajarkan kepada para penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya memeluk agama Hindu, sehingga ajaran Islam dengan mudah diterima mereka. Di antara para sufi yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syeikh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini terus dianut bahkan hingga kini.

5.            Kesenian

Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah melalui pertunjukkan wayang. Seperti diketahui bahwa Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah materi dalam setiap pertunjukan yang dilakukannya. Sunan Kalijaga hanya meminta kepada para penonton untuk mengikutinya mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih diambil dari cerita Ramayana dan Mahabarata, tetapi muatannya berisi ajaran Islam dan nama-nama pahlawan muslim.

Selain wayang, media yang dipergunakan dalam penyebaran Islam di Indonesia adalah seni bangunan, seni pahat atau seni ukir, seni tari, seni musik dan seni sastra. Di antara bukti yang dihasilkan dari pengembangan Islam awal adalah seni bangunan Masjid Agung Demak, Sendang Duwur, Agung Kasepuhan, Cirebon, Masjid Agung  Banten, dan lain sebagainya. Seni bangunan Masjid yang ada, merupakan bentuk akulturasi dari kebudayaan lokal Indonesia yang sudah ada sebelum Islam, seperti bangunan candi. Salah satu dari sekian banyak contoh yang dapat kita saksikan hingga kini adalah Masjid Kudus dengan menaranya yang sangat terkenal itu. Hal ini menunjukkan sekali lagi bahwa proses penyebaran Islam di Indonesia yang dilakukan oleh para penyebar Islam melalui caracara damai dengan mengakomodasi kebudayaan setempat. Cara ini sangat efektif untuk menarik perhatian masyarakat pribumi dalam memahami gerakan Islamisasi yang dilakukan oleh para mubaligh, sehingga lambat laun mereka memeluk Islam.

6.            Politik

Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya masuk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di wilayah ini. Jalur politik juga ditempuh ketika kerajaan Islam menaklukkan kerajaan non Islam, baik di Sumatera, Jawa, maupun Indonesia bagian Timur.

B.   Dakwah Islam di Indonesia

Keberhasilan dakwah Islam di Indonesia dapat dilihat melalui beberapa tahap, tetapi tahapan dari masing – masing wilayah berbeda – beda.

1.     Tahap Pengenalan Agama

Tahap ini dimulai dengan mengenalkan dan mengajak masyarakat untuk memeluk agama Islam secara formal. Pada tahapan ini dasar – dasar Islam diperkenalkan, terutama tentang pelaksanaan syariat atau fikih. Mereka menemukan bentuk – bentuk ritual dan ajaran yang berbeda pada agama sebelumnya.

2.     Tahap Pendalaman Agama

Setelah agama Islam tersebar ke seluruh pelosok nusantara pada abad ke – 15 sampai 16 M, pemeluk agama Islam memasuki tahap pendalaman keagamaan. Di tahap ini lahir lembaga pendidikan formal seperti pesantren dan madrasah serta muncul penulis dari kalangan ulama terutama pemikiran agama dan sastra

3.     Tahap Pengembangan Intelektualitas

Pada abad XVII M terjadi peningkatan dan penyempurnaan ajaran Islam. Tradisi intelektual pada saat itu sangat mengagumkan hingga melahirkan ulama dengan karya – karya monumental, mulai fikih, ushuludin, tasawuf, tafsir, hadits, retorika, hingga astronomi. Islam menjadi faktor penting sebagai pemersatu bangsa.

4.     Tahap Kearah Pembaruan

Gerakan pembaharuan sering diistilahakan dengan “tajdid”, pada tahap ini gerakan gerakan keagamaan tumbuh menjadi gerakan kebangsaan. Contoh : organisasi serikat Islam (SI)menekankan pada perjuangan politik, Muhammadiyah dan NU menekankan pada bidang sosial dan dakwah

5.     Tahap Kematangan Intelektualitas

Lahirnya tokoh – tokoh pemikir Islam pada tahun 1970-an merupakan bukti kematangan intelektual dalam dunia Islam di Indonesia. Dari para tokoh pemikir Islam ini lahir gagasan agar nilai –nilai Islam tetap mewarnai dalam kehidupan berbangsa.

Senin, 07 September 2020

TARIKH KELAS XII BAB 1 - SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA

 SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA

Pada tahun 30 Hijrih atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah. dalam makalah ini akan di bahas lebih mendalam mengenai sejarah perkembangan islam di Indonesia.

Rumusan Masalah

ü  Sejarah masuknya islam di indonesia

ü  Perkembangan islam di Indonesia

ü  Kerajaan-kerajaan islam di indonesia

A.    SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA

Di lihat dari proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia, ada tiga teori yang berkembang. Teori Gujarat, teori Makkah, dan teori Persia (Ahmad Mansur, 1996). Ketiga teori tersebut, saling mengemukakan perspektif kapan masuknya Islam, asal negara, penyebar atau pembawa Islam ke Nusantara.

1.      Teori Mekah

Teori Mekah mengatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia adalah langsung dari Mekah atau Arab. Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Tokoh yang memperkenalkan teori ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA, salah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia. Hamka mengemukakan pendapatnya ini pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada dies natalis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta. Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab. Bahan argumentasi yang dijadikan bahan rujukan HAMKA adalah sumber lokal Indonesia dan sumber Arab.

 Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilai nilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh masehi.

Dalam hal ini, teori HAMKA merupakan sanggahan terhadap Teori Gujarat yang banyak kelemahan. Ia malah curiga terhadap prasangka-prasangka penulis orientalis Barat yang cenderung memojokkan Islam di Indonesia. Penulis Barat, kata HAMKA, melakukan upaya yang sangat sistematik untuk menghilangkan keyakinan negeri-negeri Melayu tentang hubungan rohani yang mesra antara mereka dengan tanah Arab sebagai sumber utama Islam di Indonesia dalam menimba ilmu agama. Dalam pandangan HAMKA, orang-orang Islam di Indonesia mendapatkan Islam dari orang- orang pertama (orang Arab), bukan dari hanya sekadar perdagangan. Pandangan HAMKA ini hampir sama dengan Teori Sufi yang diungkapkan oleh A.H. Johns yang mengatakan bahwa para musafirlah (kaum pengembara) yang telah melakukan islamisasi awal di Indonesia. Kaum Sufi biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendirikan kumpulan atau perguruan tarekat.

2.       Teori Gujarat

Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat ini terletak di India bagain barat, berdekaran dengan Laut Arab. Tokoh yang menyosialisasikan teori ini kebanyakan adalah sarjana dari Belanda. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel dari Universitas Leiden pada abad ke 19. Menurutnya, orang-orang Arab bermahzab Syafei telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke7 Masehi), namun yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia timur, termasuk Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, teori Pijnapel ini diamini dan disebarkan oleh seorang orientalis terkemuka Belanda, Snouck Hurgronje. Menurutnya, Islam telah lebih dulu berkembang di kota-kota pelabuhan Anak Benua India. Orang-orang Gujarat telah lebih awal membuka hubungan dagang dengan Indonesia dibanding dengan pedagang Arab. Dalam pandangan Hurgronje, kedatangan orang Arab terjadi pada masa berikutnya. Orang-orang Arab yang datang ini kebanyakan adalah keturunan Nabi Muhammad yang menggunakan gelar “sayid” atau “syarif ” di di depan namanya.

Teori Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta (1912) yang memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan yang terdapat di Kambay, Gujarat. Moquetta akhirnya berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telah belajar kaligrafi khas Gujarat. Alasan lainnya adalah kesamaan mahzab Syafei yang di anut masyarakat muslim di Gujarat dan Indonesia.

3.      Teori Persia

Teori Persia mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia atau Parsi (kini Iran). Pencetus dari teori ini adalah Hoesein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein lebih menitikberatkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia.

Tradisi tersebut antara lain: tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, seperti yang berkembang dalam tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat. Istilah “tabut” (keranda) diambil dari bahasa Arab yang ditranslasi melalui bahasa Parsi. Tradisi lain adalah ajaran mistik yang banyak kesamaan, misalnya antara ajaran Syekh Siti Jenar dari Jawa Tengah dengan ajaran sufi Al-Hallaj dari Persia. Bukan kebetulan, keduanya mati dihukum oleh penguasa setempat karena ajaran-ajarannya dinilai bertentangan dengan ketauhidan Islam (murtad) dan membahayakan stabilitas politik dan sosial. Alasan lain yang dikemukakan Hoesein yang sejalan dengan teori Moquetta, yaitu ada kesamaan seni kaligrafi pahat pada batu-batu nisan yang dipakai di kuburan Islam awal di Indonesia. Kesamaan lain adalah bahwa umat Islam Indonesia menganut mahzab Syafei, sama seperti kebanyak muslim di Iran.

Agama Islam ke Indonesia berasal dari Arabia melalui beberapa jalur laut yaitu:

  1. Jalur Utara, berasal dari pusat Islam di Makkah dan Madinah, melalui Damaskus (Syiria/ Syuriah), Baghdad (Irak), lalu memasuki pantai sebelah barat India (Gujarat), kemudian masuk ke Sri Langka dan akhirnya masuk ke Indonesia
  2. Jalur Selatan, berasal dari Jazirah Arab (Makkah dan Madinah) melalui Yaman, menyusuri pantai barat India (Gujarat), Sri Langka dan masuk ke wilayah Indonesia

B.     PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

Meskipun Islam baru bisa dikatakan berkembang setelah berdirinya kerajaan Islam, atau setidaknya ketika ada jalinan hubungan dagang antara saudaga rmuslim dengan pribumi, namun cara kedatangan Islam dan penyebarannya di Indonesia tidak dilakukan dari saluran politik atau perdagangan semata.Setidaknya ada enam saluran berkembangnya Islam di Indonesia(Yatim:201-203). Saluran perkembangan tersebut meliputi saluran perdagangan, saluran politik, saluran perkawinan, saluran pendidikan,saluran kesenian dan saluran tasawuf.

1.      Pendekatan perdagangan

Para pedagang Islam dari Gujarat, Persia dan Arab tinggal selama berbulan-bulan di Malaka dan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia. Mereka menunggu angin musim yang baik untuk kembali berlayar. Maka terjadilah interaksi atau pergaualan antara para pedagang tersebut dengan raja-raja, para bangsawan dan masyarakat setempat. Kesempatan ini digunakan oleh para pedagang untuk menyebarkan agama Islam.

2.      Pendekatan politik

Masuknya Islam melalui saluran ini dapat terlihat ketika Samudera Pasai menjadi kerajaan, banyak sekali penduduk yang memeluk agama Islam.Proses seperti ini terjadi pula di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah raja mereka memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Dari sini dapat dikatakan pula bahwa kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan yang bukan muslim untuk memeluk agama Islam.

3.      Pendekatan perkawinan

Tak dapat dipungkiri, dari sisi ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi, terutama puteri-puteri bangsawan, tertarik untuk menjadi istri para pedagang itu. Sebelum prosesi pernikahan, mereka telah diIslamkan terlebih dahulu, dan setelah mereka memiliki keturunan, lingkungan kaum muslim semakin luas. Oleh karenanya tidak heran banyak sekali bermunculan kampung-kampung muslim.

Awalnya kampung ini berkembang di pesisir pantai, biasanya mereka disebut dengan kampung arab —dan masih terkenal hingga saat ini. Dalam perkembangan berikutnya, karena ada wanita yang keturunan bangsawan yang dinikahi oleh pedagang itu, tentu saja kemudian dapat mempercepat proses islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat atau Sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan Puteri Kawunganten, Brawijayadengan puteri Campa yang menurunkan Raden Patah, raja pertama kerajaan Demak, dan lain-lain.

4.      Pendekatan pendidikan

Pada proses ini, biasanya dilakukan melalui pendidikan-pendidikan yang dilakukan oleh para wali, ulama, kiai, atau guru agama yang mendidik muridmurid mereka. Tempat yang paling pesat untuk mengembangkan ajaran Islam adalah di pondok pesantren. Di tempat itu para santri dididik dan diajarkan pendidikan agama Islam secara mendalam, sehingga mereka betul-betul menguasai ilmu agama. Setelah lulus dari pesantren, para santri kembali ke daerah asal untuk kemudian menyebarkan kepada masyarakat umum pelajaran yang telah mereka peroleh di pesantren.

5.      Pendekatan kesenian

Kesenian merupakan wahana untuk berdakwah bagi para pemuka agama di Indonesia. Pada proses ini yang paling terkenal menggunakannya adalah para wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Salah satu media pertunjukan yang paling terkenal melalui pertunjukan wayang. Sunan Kalijaga, penyebar Islam di daerah Jawa Tengah adalah sosok yang sangat mahir dalam memainkan wayang. Cerita wayang yang dimainkan berasal dari cerita Ramayana dan Mahabarata yang memang sudah sangat Tasawuf merupakan bagian ajaran dari Agama Islam.

Para tokoh tasawuf ini biasanya memiliki keahlian khusus sehingga dapat menarik penduduk untuk memeluk ajaran Islam. Keahlian tersebut biasanya termanifestasi dalam bentuk penyembuhan bagi orang-orang yang terkena penyakit, lalu disembuhkan. Ada juga yang termanifestasi sebagai kekuatan-kekuatan magic yang memang sudah sangat akrab dengan penduduk pribumi saat itu terkenal dan digemari oleh masyarakat. Dalam memainkan wayang, selalu disisipkan ajaran-ajaran Islam sehingga penduduk pribumi mulai akrab dengan ajaran Islam melalui media ini. Yang paling manarik dalam pertunjukan ini adalah para penduduk tidak dipungut biaya ketika mereka menyaksikan pertunjukan wayang, mereka hanya diminta untuk melantunkan kalimat syahadat, sehingga mereka akhirnya masuk Islam dan ikut mendalami ajarannya.

6.      Pendekatan tasawuf

 Tasawuf merupakan bagian ajaran dari Agama Islam. Para tokoh tasawuf ini

biasanya memiliki keahlian khusus sehingga dapat menarik penduduk untuk memeluk ajaran Islam. Keahlian tersebut biasanya termanifestasi dalam bentuk penyembuhan bagi orang-orang yang terkena penyakit, lalu disembuhkan. Ada juga yang termanifestasi sebagai kekuatan-kekuatan magic yang memang sudah sangat akrab dengan penduduk pribumi saat itu.

C.    KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA

Dari berbagai proses tersebut, Indonesia kemudian menjadi negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Pada perkembangannya ajaran Islam disalurkan melalui berbagai kerajaan yang berkembang di Indonesia. Kerajaan Islam yang pertama ada dan berkembang adalah kerajaan Samudera Pasai, dengan raja pertamanya yang bernama Sultan Malik al-Saleh (1297 M/696 H). Kerajaan ini terletak di pesisir timur laut Aceh. Selain Samudera Pasai, di Aceh juga ada kerajaan Aceh Darussalam, yang berdiri di atas kerajaan Lamuri.

Di Jawa kerajaan Islam yang pertama adalah kerajaan Demak, yang dipimpin oleh raja pertamanya, Raden Patah. Kemudian ada pula kerajaan Pajang yang dipimpinoleh Jaka Tingkir. Kerajaan ini berdiri setelah meninggalnya sultan Demak tahun 1546 M. Ada pula kerajaan Mataram yang dipimpin pertamakali oleh Senopati.

Kemudian kerajaan Cirebon yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Selain di Sumatera dan Jawa, kerajaan Islam juga tumbuh di tempat lain di nusantara, seperti Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Di Kalimantan ada kerajaan Banjar (Kalimantan Selatan), Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur). Di Sulawesi ada kerajaan Gowa-Tallo, dengan sultan Alauddin (1591-1636) sebagai raja Islam yang pertama. Selain Gowa-Tallo, di Sulawesi ada kerajaan Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu). Mereka juga menerima Islam pada awal abad 17 M. Sementara itu di Maluku ada kerajaan Ternate yang memeluk Islam sekitar tahun 1460 dengan pimpinan seorang raja yang bernama Vongi Tidore.

1.      Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam yang pertama kali tercatat sebagai kerajaan Islam di Nusantara. Secara pasti, mengenai awal dan tahun berdirinya kerajaan ini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi menurut pendapat Hasyimi, berdasarkan naskah tua yang berjudul Izhharul Haq yang ditulis oleh Al-Tashi dikatakan bahwa sebelum Samudra Pasai berkembang, sudah ada pusat pemerintahan Islam di Peureula (Perlak) pada pertengahan abad ke-9. Perlak berkembang sebagai pusat perdagangan, tetapi setelah keamanannya tidak stabil maka banyak pedagang yang mengalihkan kegiatannya ke tempat lain yakni ke Pasai, akhirnya Perlak mengalami kemunduran.

Dengan kemunduran Perlak, maka tampillah seorang penguasa lokal yang bernama Marah Silu dari Samudra yang berhasil mempersatukan daerah Samudra dan Pasai. Dan kedua daerah tersebut dijadikan sebuah kerajaan dengan nama Samudra Pasai.

Kerajaan Samudra Pasai terletak di Kabupaten Lhokseumauwe, Aceh Utara, yang berbatasan dengan Selat Malaka.

2.      Kerajaan Demak

Sebelum dikenal dengan nama Demak, daerah tersebut dikenal dengan nama

Bintoro atau Gelagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit. Kadipaten Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah seorang keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) yaitu raja Majapahit. Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa.

Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dengan melakukan penyerangan terhadap Majapahit. Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah. Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai Demak, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi). Bintoro sebagai pusat kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi kerajaan Demak.

3.      Kerajaan Banten

Seperti yang telah dijelaskan pada uraian materi tentang kerajaan Demak, bahwa daerah ujung barat pulau Jawa yaitu Banten dan Sunda Kelapa dapat direbut oleh Demak, di bawah pimpinan Fatahillah. Untuk itu daerah tersebut berada di bawah kekuasaan Demak. Setelah Banten diislamkan oleh Fatahillah maka daerah Banten diserahkan kepada putranya yang bernama Hasannudin, sedangkan Fatahillah sendiri menetap di Cirebon, dan lebih menekuni hal keagamaan. Dengan diberikannya Banten kepada Hasannudin, maka Hasannudin meletakkan dasardasar

pemerintahan kerajaan Banten dan mengangkat dirinya sebagai raja pertama, memerintah tahun 1552 – 1570.

Lokasi kerajaan Banten terletak di wilayah Banten sekarang, yaitu di tepi Timur Selat Sunda sehingga daerahnya strategis dan sangat ramai untuk perdagangan nasional. Pada masa pemerintahan Hasannudin, Banten dapat melepaskan diri dari kerajaan Demak, sehingga Banten dapat berkembang cukup pesat dalam berbagai bidang kehidupan.

4.      Kerajaan Mataram

Pada awal perkembangannya kerajaan Mataram adalah daerah kadipaten yang dikuasai oleh Ki Gede Pamanahan. Daerah tersebut diberikan oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yaitu raja Pajang kepada Ki Gede Pamanahan atas jasanya membantu mengatasi perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang munculnya kerajaan Pajang. Ki Gede Pamanahan memiliki putra bernama Sutawijaya yang juga mengabdi kepada raja Pajang sebagai komando pasukan pengawal raja. Setelah Ki Gede Pamanahan meninggal tahun 1575, maka Sutawijaya menggantikannya sebagai adipati di Kota Gede tersebut. Setelah pemerintahan Hadiwijaya di Pajang berakhir, maka kembali terjadi perang saudara antara Pangeran Benowo putra Hadiwijaya dengan Arya Pangiri, Bupati Demak yang merupakan keturunan dari Raden Trenggono.

 Akibat dari perang saudara tersebut, maka banyak daerah yang dikuasai Pajang melepaskan diri, sehingga hal inilah yang mendorong Pangeran Benowo meminta bantuan kepada Sutawijaya. Atas bantuan Sutawijaya tersebut, maka perang saudara dapat diatasi dan karena ketidakmampuannya maka secara sukarela Pangeran Benowo menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya. Dengan demikian berakhirlah kerajaan Pajang dan sebagai kelanjutannya muncullah kerajaan Mataram. Lokasi kerajaan Mataram tersebut di Jawa Tengah bagian Selatan dengan pusatnya di kota Gede yaitu di sekitar kota Yogyakarta sekarang.

5.      Kerajaan Gowa-Tallo

Di Sulawesi Selatan pada abad 16 terdapat beberapa kerajaan di antaranya Gowa, Tallo, Bone, Sopeng, Wajo dan Sidenreng. Masing-masing kerajaan tersebut membentuk persekutuan sesuai dengan pilihan masing-masing. Salah satunya adalah kerajaan Gowa dan Tallo membentuk persekutuan pada tahun 1528, sehingga melahirkan suatu kerajaan yang lebih dikenal dengan sebutan kerajaan Makasar. Nama Makasar sebenarnya adalah ibukota dari kerajaan Gowa dan sekarang masih digunakan sebagai nama ibukota propinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis, daerah Sulawesi Selatan memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di jalur pelayaran (perdagangan Nusantara). Bahkan daerah Makasar menjadi pusat persinggahan para pedagang baik yang berasal dari Indonesia Timur maupun yang berasal dari Indonesia Barat. Dengan posisi strategis tersebut maka kerajaan Makasar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.

6.      Kerajaan Ternate-Tidore

Kerajaan Ternate dan Tidore terletak di kepulauan Maluku. Maluku adalah kepulauan yang terletak di antara Pulau Sulawesi dan Pulau Irian. Jumlah pulaunya ratusan dan merupakan pulau yang bergunung-gunung serta keadaan tanahnya subur. Keadaan Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan rimba, maka daerah Maluku terkenal sebagai penghasil rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh dan pala merupakan komoditi perdagangan rempah-rempah yang terkenal pada masa itu, sehingga pada abad 12 ketika permintaan akan rempah-rempah sangat meningkat, maka masyarakat Maluku mulai mengusahakan perkebunan dan tidak hanya mengandalkan dari hasil hutan. Perkebunan cengkeh banyak terdapat di Pulau Buru, Seram dan Ambon. Dalam rangka mendapatkan rempah-rempah tersebut, banyak pedagangpedagang yang datang ke Kepulauan Maluku. Salah satunya adalah pedagang Islam dari Jawa Timur. Dengan demikian melalui jalan dagang tersebut agamaIslam masuk ke Maluku, khususnya di daerah-daerah perdagangan seperti Hitu di Ambon, Ternate dan Tidore.

Selain melalui perdagangan, penyebaran Islam di Maluku dilakukan oleh para Mubaligh (Penceramah) dari Jawa, salah satunya Mubaligh terkenal adalah Maulana Hussain dari Jawa Timur yang sangat aktif menyebarkan Islam di maluku sehingga pada abad 15 Islam sudah berkembang pesat di Maluku. Dengan berkembangnya ajaran Islam di Kepulauan Maluku, maka rakyat Maluku baik dari kalangan atas atau rakyat umum memeluk agama Islam, sebagai contohnya Raja Ternate yaitu Sultan Marhum, bahkan putra mahkotanya yaitu Sultan Zaenal Abidin pernah mempelajari Islam di Pesantren Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur sekitar abad 15. Dengan demikian di Maluku banyak berkembang kerajaan-kerajaan Islam. Dari sekian banyak kerajaan Islam di Maluku, kerajaan Ternate dan Tidore merupakan dua kerajaan Islam yang cukup menonjol peranannya, bahkan saling bersaing untuk memperebutkan hegemoni (pengaruh) politik dan ekonomi di kawasan tersebut.

A.    Kesimpulan

Islam datang ke Indonesia ketika pengaruh Hindu dan Buddha masih kuat. Kala itu, Majapahit masih menguasai sebagian besar wilayah yang kini termasuk wilayah Indonesia. Masyarakat Indonesia berkenalan dengan agama dan kebudayaan Islam melalui jalur perdagangan, sama seperti ketika berkenalan dengan agama Hindu dan Buddha. Melalui aktifitas niaga, masyarakat Indonesia yang sudah mengenal Hindu-Buddha lambat laun mengenal ajaran Islam. Persebaran Islam ini pertama kali terjadi pada masyarakat pesisir laut yang lebih terbuka terhadap budaya asing. Setelah itu, barulah Islam menyebar ke daerah pedalaman dan pegunungan melalui aktifitas ekonomi, pendidikan, dan politik.

Proses masuknya agama Islam ke Indonesia tidak berlangsung secara revolusioner, cepat, dan tunggal, melainkan berevolusi, lambat-laun, dan sangat beragam. Dan dalam perkembangan selanjutnya bermunculan banyak kerajaan-kerajaan islam di Indonesia seperti samudera pasai dan kerajaan-kerajaan islam lainnya.

Rabu, 02 September 2020

KEMUHAMMADIYAHAN KELAS XII BAB 2 - KADERISASI MUHAMMADIYAH

 KADERISASI MUHAMMADIYAH

Kaderisasi merupakan bagian penting dalam persyarikatan Muhammadiyah. Upaya ini harus dilakukan untuk menciptakan para mujahid yang berkualitas di Muhammadiyah. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam pengkaderan, misalnya melalui pendekatan ranah pendidikan.

Kaderisasi bertujuan untuk menciptakan kader-kader terbaik yang mampu meneruskan estafet perjuangan dakwah Muhammadiyah.

KADERISASI MUHAMMADIYAH

A.          Definisi dan Posisi Kader

Kader (Perancis: cadre ) atau les cadres maksudnya adalah anggota inti yang menjadi bagian terpilih, dalam lingkup dan lingkungan pimpinan serta mendampingi di sekitar kepemimpinan. Kader bisa berarti pula sebagai jantung suatu organisasi. Jika kader dalam suatu kepemimpinan lemah,maka seluruh kekuatan kepemimpinan juga akan lemah. Kader berarti pula pasukan inti. Daya juang pasukan inti ini sangat tergantung dari nilai kadernya yang berkualitas, berwawasan, militan, dan penuh semangat.

Dalam pengertian lain, kader (Latin: quadrum), berarti empat persegi panjang atau kerangka. Dengan demikian kader dapat didefinisikan sebagai kelompok manusia yang terbaik karena terpilih, yaitu merupakan tulang punggung (kerangka) dari kelompok yang labih besar dan terorganisasi secara permanen. Jadi, jelas bahwa orang-orang yang berkualitas itulah yang terpilih dan berpengalaman dalam berorganisasi, taat asas dan berinisiatif, yang dapat disenut sebagai kader.

Fungsi dan posisi kader dalam suatu organisasi, termasuk di Persyarikatan, dengan demikian menjadi sangat penting karena kader dapat dikatakan sebagai inti pergerakan organisasi. Di samping itu, kader juga merupakan syarat penting bagi berlangsungnya regenerasi kepemimpinan.

Bagi sebuah organisasi, regenerasi kepemimpinan yang sehat karena ditopang oleh keberadaan kader-kader yang qualified, selain akan menjadikan organisasi bergerak dinamis, juga formasi kepemimpinannya akan segar dan enerjik. Keberadaan kader bagi Muhammadiyah-dengan kualifikasi dan kompetensinya-seolah memanifestasikan sosok ciptaan Allah yang terbaik (khairul bariyyah- QS.Al-Bayyinah/96:7); bagian dari umat yang terbaik ( khairu ummah-QS.Ali Imran/3:110); serta semisal flora yang kokoh dan menawan, yang dalam QS.Al-Fath/48:29 diungkapkan;

“......Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Jika Persyarikatan tidak merancang dan menyiapkan para kadernya secara sistematis dan organisatoris, maka dapat dipastikan bahwa Muhammadiyah sebagai suatu organisasi akan lemah lunglai, loyo tidak berkembang, tidak ada aktivitas dan tidak memiliki prospek masa depan. Karena itu setiap organisasi haruslah memiliki konsep yang jelas, terencana dan sistematis dalam menyiapkan dan mengembangkan suatu sistem yang menjamin

 

B.          Pengertian Sistem Perkaderan Muhammadiyah

Ada dua kosakata yang perlu diklarifikasi terlebih dahulu untuk bisa memahami Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM), yaitu:sistem dan perkaderan. Secara leksikal, sistem berarti seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu kesatuan atau totalitas ( a set or arrangement of things so related or connected as to form a unity or organic whole). Kemudian tentang perkaderan, pengucapan dan penulisannya sering tertukar dengan pengaderan atau pengkaderan. Pengaderan adalah : proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Namun perlu diingat, dalam “pengaderan” ini, posisi kader atau orang yang ikut dalam training menjadi obyek dan pasif sebagai orang yang dididik atau dibentuk menjadi kader.

Sedangkan perkaderan, berasal dari kata dasar kader ditambah prefiks_nominal per dan sufiks an (perihal, yang berhubungan dengan, antara lain, kader). Dalam “perkaderan”, posisi kader atau orang yang ikut training menjadi subyek dan aktif. Jadi, yang pas dipergunakan dalam SPM adalah perkaderan.

Dengan demikian, pengertian Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM) adalah: “Seperangkat unsur dan keseluruhan komponen yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas yang berhubungan dengan kader dan kaderisasi di Muhammadiyah.”

Sebagai sebuah sistem, unsur-unsur yang terkandung dalam SPM berupa : tujuan perkaderan Muhammadiyah; arah perkaderan Muhammadiyah; profil kader Muhammadiyah; jenis dan bentuk perkaderan; struktur penjenjangan kader; kurikulum perkaderan; dan pengorganisasian perkaderan. Dalam hal ini, sistem perkaderan yang dimiliki olah ortom, juga merupakan bagian dari SPM.

 

C.          Perkaderan Sebagai Sebuah Sistem

Sebagai sebuah sistem dan kesatuan yang utuh, maka SPM berlaku bagi semua jajaran dan komponen Persyarikatan. Konsekkuensinya SPM juga memuat atau mencakup seluruh bentuk dan jenis kaderisasi dan pelatihan yang diterapkan di Muhammadiyah, baik secara vertikal maupun horizontal.Yang dimaksud dengan vertikal adalah SPM berlaku bagi seluruh pimpinan Mihammadiyah, mulai dari Pusat sampai dengan Ranting, sebagai acuan dan pola dalam pelaksanaan kadersisari secara optimal sesuai dengan tingkatan masing-masing. Sedangkan yang dimaksud dengan horizontal adalah SPM berlaku dan mengikat seluruh Unsur Pembantu Pimpinan (majlis dan lembaga), Ortom, dan Amal Usaha Muhammadiyah diseluruh jenjang kepemimpinan Muhammadiyah untuk dilaksanakan sebagai acuan dan pola kaderisasi.

Karena bersifat mengikat dan menyeluruh seperti itu, maka sistem perkaderan yang dimiliki masing-maing ortom menjadi bagian dari SPM. Maing-maing ortom melaksanakan program dan kegiatan perkaderanya berdasarkan kekhasan masing-masing dengan tetap mengacu dan mengindahkan konsep dasar, prinsip dan kurikulum dalam SPM secara konsisten. Sedang pelatihan dan training yang ada dan dimiliki oleh majlis dan/atau lembaga semuanya termasuk dalam SPM yang dikatagorikan sebagai jenis perkaderan fungsional. Karena termasuk bagian SPM, maka dalam perkaderan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh ortom dan majlis atau lembaga tersebut harus mengandung muatan materi pokok dari kurikulum SPM.

Kemudian, sebagai bagian dari SPM, maka untuk kegiatan pelatihan atau training dalam program kegiatan yang diselenggarakan oleh unsur pembantu pimpinan, masing-masing cukup menyusun panduan pelatihan atau pedoman pelaksanaan saja. Jadi tidak perlu membuat sistem perkaderan sendiri, untuk menghindari kesalahpahaman ada lebih dari satu sistem perkaderan Muhammadiyah.Dalam kesatuan sistem, maka pelksanaan perkaderan, baik di lingkungan Unsur pembantu pimpinan, ortom, maupun AUM harus selalu dalam koordinasi dengan Mejlis Pendidikan Kader (MPK) di masing-masing tingkatan pimpinan persyarikatan. Untuk efektivitas perencanaan dan pelaksanaan perkaderan, pimpinan AUM (bersama majlis/lembaga yang membawahinya) berkoordinasi langsung dengan MPK. Sesuai dengan fungsi, tugas dan wewenang yang diamanahkan kepada MPK, maka hal ini menjadi bagian dari fungsi MPK dalam perkaderan.

 

D.          Tujuan Perkaderan Muhammadiyah

Terbentuknya kader Muhammadiyah yang memiliki ruh (spirit) serta mempunyai integritas dan kompetensi untuk berperan di Persyarikatan, dalam kehidupan umat dan dinamika bangsa serta konteks global.

 

E.          Jalur Kaderisasi Muhammadiyah

Kaderisasi dalam organisasi pada hakikatnya adalah totalitas upaya pembelajaran dan pemberdayaan yang dilakukan secara sistematis, terpadu, terukur, dan berkelanjutan dalam rangka melakukan pembinaan dan pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik setiap individu. Dalam melaksanakan program perkaderan, Muhammadiyah telah menjadikan empat sektor sebagai jalur kaderisasi, yaitu:

1.     Jalur Keluarga

Menurut Muhammadiyah, fungsi keluarga ideal adalah sebagai media sosialisasi nilai-nilai Islam dan juga wahana/media kaderisasi. Contoh kaderisasi lewat jalur keluarga misalnya dengan memilih Channel TvMu (Tv Muhammadiyah) untuk dijadikan tontonan keluarga di rumah, mengajak keluarga di rumah untuk mengahdiri pengajian-pengajian Muhammadiyah, dll.

2.     Jalur Amal Usaha

Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) adalah kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan Muhammadiyah untuk menunjang perwujudan tujuan persyarikatan, yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dintaranya adalah Rumah sakit (bidang kesehatan), sekolah (bidang Pendidikan), dan lain-lainnya. Contoh kaderisasi lewat jalur pendidikan adalah dengan disampaikannya secara berjenjang dan berkelanjutan serta secara terus menerus materi al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

3.     Jalur Organisasi Otonom

Organisasi Otonom (ortom) Muhammadiyah adalah jalur penting untuk memasok kader-kader muda yang kelak dapat menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna anam usaha Muhammadiyah.

4.     Jalur Program Khusus (MPK)

Program khusus adalah kegiatan-kegiatan, baik formal maupun non formal yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Kader (MPK). Program-program ini dimaskudkan untuk membina dan memberdayakan potensi sumber daya insani persyarikatan sehingga dapat menjadi kader-kader yang tangguh. Kader-kader yang cleleng. Siap dan tahan banting.

 

F.           Jenis dan Bentuk Perkaderan Muhammadiyah

Perkaderan Muhammadiyah dilaksanakan dengan menggunakan berbagai jenis kegiatan kaderisasi yang terarah, terencana, dan berkesinambungan. Jenis-jenis kegiatan kaderisasi yang dilaksanakan secara umum terdiri dari dua kategori, yaitu perkaderan utama dan perkaderan fungsional.

1.            Perkaderan Utama

Perkaderan utama adalah kegiatan kaderisasi pokok yang dilaksanakan dalam bentuk pendidikan atau pelatihan untuk menyatukan visi dan pemahaman nilai ideologis serta aksi gerakan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Persyarikatan atau MPK dan AUM. Perkaderan utama terdiri dari dua bentuk Darul Arqam dan Baitul Arqam. Perkaderan ini dilaksanakan dengan standar kurikulum yang baku dan waktu penyelenggarannya pun ditetapkan dengan waktu tertentu.

Darul Arqam diprioritaskan untuk Pimpinan Persyarikatan, Unsur Pembantu Pimpinan, dan Pimpinan Tertentu (top manager) AUM. Darul Arqam diselenggarakan selama seminggu (untuk puast), lima hari (wilayah), dan empat hari (untuk pimpinan AUM). 

Sedang Baitul Arqam sasarannya adalah untuk para anggota, simpatisan, dan pimpinan yang tidak dapat mengikuti kegiatan Darul Arqam karena berbagai kendala. Baitul Arqam biasanya diselenggarakan dalam tiga hari.

 

2.            Perkaderan Fungsional

Perkaderan Fungsional adalah kegiatan kaderisasi yang terstruktur namun tidak ditetapkan standar kurikulumnya secara baku untuk mencukupi kebutuha dan fungsi tertentu dari Majelis atau Lembaga. Perkaderan fungsional dilaksanakan sebagai pendukung perkaderan utama dan dilaksanakan dalam bentuk pendidikan, pelatihan, kursus, dan kajian intensif. 

Bentuk-bentuk kegiatan perkaderan fungsional di antaranya adalah:

Ø Pelatihan Instruktur

Ø Pelatihan yang diselenggarakan Majelis dan Lembaga

Ø Pengajian Pimpinan

Ø Pengajian Khusus

Ø Pelatihan Tata Kelola Organisasi

Ø Diklat Khusus

 

G.         Arah Perkaderan Muhammadiyah

    Perkaderan pada hakekatnya merupakan pembinaan personel anggota dan pimpinan secara terprogram dengan tujuan tertentu bagi Persyarikatan. Dalam Muhammadiyah perkaderan dititikberatkan pada pembinaan idiologi; pembinaan kepemimpinan; membangun kekuatan dan kualitas pelaku gerakan, idiologi gerakan dan mengoptimalkan sistem kaderisasi yang menyeluruh dan berorientasi ke masa depan. Dengan demikian, perkaderan Muhammadiyah menjadi upaya penanaman nilai, sikap dan cara berpikir, serta peningkatan kompetensi dan integritas terutama dalam aspek idiologi, kualitas kepemimpinan, ilmu pengetahuan dan wawasan bagi segenap pipmpinan, kader dan anggota/warga Muhammadiyah. Dengan kata lain, dalam perkaderan harus terjadi penyadaran, peneguhan dan mengayaan. Upaya ini bisa dipahami dalam rincian berikut.

1.            Pembinaan KeIslaman

a.     Penanaman nilai-nilai Islam sesuai dengan pandangan Muhammadiyah

b.     Pembinaan aqidah

c.      Pembinaan ibadah

d.     Pembinaan akhlaq

e.      Pembinaan mu’amalah duniawiyah

 

2.            Pembinaan Jiwa Persyarikatan

a.  Pemahaman sejarah dan dinamika garakan pembaharuan dan pemikiran Islam dalam konteks memahami Muhammadiyah sebagai gerakan Islam

b.     Meneguhkan ideologi gerakan Muhammadiyah

c.      Penguatan etika dan kultur bermuhammadiyah

 

3.            Pembinaan Keilmuan dan Wawasan

a.     Pengembangan penguasaan metodologi keilmuan dan berpikir ilmiah

b.  Penguasaan disiplin ilmu dan aplikasi teknologi sesuai bidang keahlian masing-masing.

c.      Pengembangan wawasan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan

d.     Pemahaman dinamika dan peta perjuangan umat Islam

 

4.            Pembinaan Kepemimpinan dan Menajemen

a.     Kemampuan leadership

b.     Pemahaman kemampuan manajeman organisasi

c.  Penguasaan manajeman gerakan, manajemen ide, kemampuan advokasi dan kemampuan pengambilan keputusan/kebijakan

d.     Kemampuan manajemen pengembangan masyarakat

e.      Pemahaman program Muhammadiyah

 

5.            Pembinaan Penguasaan Keterampilan, Informasi dan Keilmuan

a.     Pengembangan potensi diri kader sesuai minat dan bakatnya

b.     Pengembangan kecakapan/keahlian dan profesi tertentu seperti kemampuan analisis kebijakan publik, tehnik rekayasa sosial, tehnik-tehnik advokasi dan strategi dakwah

c.      Pengembangan kemampuan penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi, jaringan media, internet dan komputer dalam kajian dari situasi agama serta analisis data untuk keperluan dakwah Islam.

 

H.         Profil Kader Muhammadiyah

Di bagian awal telah dijelaskan bahwa kader berarti elite, yakni bagian terpilih dan terbaik karena terlatih. Bararti pula jantung suatu organisasi. Kader juga berarti inti tetap dari suatu resimen. Daya juang resimen ini sangat tergantung dari nilai kadernya yang merupakan tulang punggung, pusat semangat dari inti gerakan suatu organisasi. Karena itu hanya orang-orang yang bermutu itulah, yang terpilih dan berpengalaman dalam berbagai medan perjuangan, yang taat dan berinisiatif, yang dapat disebut kader.Kader Muhammadiyah sebagai hasil dari proses perkaderan adalah anggota inti yang diorganisir secara permanen dan berkemampuan dalam menjalankan tugas serta misi di lingkungan Persyarikatan, umat dan bangsa guna mencapai tujuan Muhammadiyah. Karena itu hakekat kader Muhammadiyah bersifat tunggal, dalam arti hanya ada satu profil kader Muhammadiyah. Sedangkan fungsi dan tugasnya bersifat majemuk dan berdimensi luas, yakni sebagai kader Persyarikatan, kader umat dan kader bangsa.

Sesuai dengan materi pembinaan dalam perkaderan, maka kader Muhammadiyah tersebut harus memiliki kriteria tertentu dalam aspek ideologi, ilmu pengetahuan, wawasan, dan kepemimpinan, sehingga kualitas Iman, Islam dan Ihsan terpadu pada dirinya dalam menjalankan tugas Persyarikatan. Profil kader Muhammadiyah harus mampu menunjukkan integritas dan kompetensi akademis dan intelektual, kompetensi keberagamaan dan kompetensi sosial-kemanusiaan guna menghadapi tantangan organisasi di masa depan.Integritas dan kompetensi kader Muhammadiyah dalam tiga aspek ini dapat dipahami dalam nilai-nilai dan indikatornya sebagai berikut:

1.     Kompetensi keberagamaan, dicirikan dengan nilai-nilai:

a.     Kemurnian aqidah (keyakinan berbasis tauhid yang bersumber pada ajaran Al Qur’an dan Sunnah Nabi yang sahih/maqbullah)

b.     Ketekunan beribadah (senantiasa menjalankan ibadah mahdhah, baik yang wajib maupun yang sunnat tathawwu’ sesuai tuntunan Rasullah)

c.      Keikhlasan (melakukan sesuatu semata-mata karena Allah SWT)

d.     Shidiq (jujur dan dapat dipercaya)

e.      Amanah (komitmen dan tanggung jawab moral yang tinggi dalam mengemban tugas)

f.       Berjiwa gerakan (semangat untuk aktif dalam Muhammadiyah sebagai panggilan jihad di jalan Allah)

 

2.     Kompetensi akademis dan intelektual , dicirikan dengan nilai-nilai :

a.     Fathonah (kecerdasan pikiran sebagai Ulul Albab)

b.     Tajdid (pembaruan dan berpikiran maju dalam mengembangkan kehidupan sesuai ajaran Islam)

c.      Istiqomah (konsisten dalam pikiran dan tindakan)

d.     Etos belajar (semangat dan kemauan keras untuk selalu belajar)

e.      Moderat (arif dan mengambil posisi di tengah)

 

3.     Kompetensi sosial kemanusiaan, dicirikan dengan nilai-nilai :

a.     Kesalehan (kepribadian yang baik dan utama)

b.   Kepedulian sosial (keterpanggilan dalam meringankan beban hidup orang lain)

c.      Suka beramal (gemar melaksanakan amal saleh untuk kemaslahatan hidup)

d.  Tabligh (menyampaikan kebaikan kepada orang lain, komunikatif dan terampil membangun jaringan)

Dalam menjalankan tugas yang diembannya di manapun dan dalam suasana apapun, dengan tiga jenis kompetensi itu setiap kader Muhammadiyah hendaknya mempunyai cara berpikir, sikap mental, dan kesadaran berorganisasi, serta keikhlasan dalam bingkai khas Persyarikatan:

1.     Memahami hakikat Islam secara menyeluruh yang mencakup aspek aqidah, ibadah, akhlaq dan mu’amalah duniawiyah, bersumberkan Al Qur’an dan As Sunnah Al Maqbullah.

2.     Melandasi segala sesuatu dengan niat ikhlas mencari ridha Allah semata-mata.

3.     Mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh dalam segenap aspek kehidupannya, dan berusaha untuk menegakkan Islam dalam kehidupan pribadi, kehidupan keluarga dan kehidupan bermasyarakat, sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

4.     Memiliki semangat jihad untukmemperjuangkan Islam

5.     Memiliki kemauan dan kesediaan untuk berkorban demi Islam, baik korban waktu, harta, tenaga, bahkan nyawa sekalipun.

6.     Mempunyai keteguhan hati dalam mengamalkan, menegakkan dan memperjuangkan Islam, dengan arti kata tidak mundur karena ancaman dan tidak terbujuk dengan rayuan dan selalu istiqomah dalam kebenaran

7.   Mematuhi pimpinan dalam hal-hal yang disuai dan tidak disukai selama berada dalam kebenaran

8.     Mengamalkan ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan bermasyarakat

9.     Aktif dalam dakwah Islam (Muhammadiyah) secara murni dan penuh.

10.     Bisa dipercaya dan mempercayai orang lain dalam organisasi.